Buku
|
|
Suara gamelan di alun-alun itu terdengar nyaring bertalu-talu. Suara “dua kenong” dan “gendang-nya” dengan nada suara dan irama yang unik terdengar sampai ke pelosok desa. Tambahan lagi suara terompet, yang ditiup oleh seorang kakek tua, telah membuat paduan suara dari sebuah simponi seni yang sangat khas, tidak ada duanya.
Empat penari sedang menunggang kuda lumping berjingkrak-jingkrak ibarat berada di atas kuda yang sedang berlari kencang. Penari barong singa meliuk-liukkan bulu merak yang menjulang tinggi. Penari topeng behidung mancung Kesenian apakah itu gerangan? Itulah kesenian Reog yang berasal dari Ponorogo. Karena itu disebutlah Reog Ponorogo.
|
|
|
Empat sekawan telah mencoba menulis buku ini secara kolaboratif. Empat sekawan itu adalah Ir. Sri Renani Pantjastuti, M.Si, Drs. Agus Haryanto, M.Ed, Drs. Suparlan, M.Ed, dan Yudistira W, S.Sos, M.Si. Keempatnya sejak lama telah terlibat dalam proses fasilitasi pembentukan Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah sampai dengan pelaksanaan program pemberdayaan Komite Sekolah sampai sekarang.
|
|
|
Banyak kata mutiara dan pendapat para pakar tentang pendidikan yang dapat dikutip dan dikumpulkan oleh penulis. Kutipan itu biasanya ditulis pada awal suatu bab dalam sebuah buku atau artikel sebagai pemanis. Lama kelamaan, kutipan itu makin bertambah banyak dan bervariasi isinya. Karena itu kutipan itu diklasifikasikan, dan akhirnya terbetiklah pemikiran mengapa tidak disusun menjadi satu buku kecil, agar kutipan-kutipan itu tidak mudah hilang.
|
|
|
Buku ini menjelaskan tentang beberapa karakteristik tentang guru efektif dari berbagai pandangan atau pendapat para ahli. Selain itu, dalam buku ini juga dijelaskan tentang berbagai hal mengenati guru, misalnya pengertian guru, status, peran, dan fungsi guru, kompetensi, standar kompetensi guru, kualifikasi, standar kualifikasi guru, guru sebagai profesi, kode etik guru, sampai dengan hal-hal yang terkait dengan hak dan kewajiban guru, perlindungan dan kesejahteraan guru.
|
|
|
Buku bertajuk "Mencerdaskan Kehidupan Bangsa: Dari Konsepsi Sampai Dengan Implementasi" ditulis oleh Drs. Suparlan, M.Ed, menjelaskan tentang konsepsi Multiple Intelligence dan implikasinya dalam bidang pendidikan di tanah air.
|
|
|
Penulis pernah menjadi pendamping konsultan P3TK, yakni Prof. Dr. Merion Jenning Rice, seorang guru besar dari Georgia University. Ketika menjadi konsultan, beliau menerbitkan satu manual yang isinya menjelaskan tentang berbagai metode mengajar, yang diklasifikasikan dalam empat model pelaksanaan pembelajaran. Penulis pernah diminta untuk menuliskan kembali beberapa tulisan yang ada dalam manual itu. Akhir-akhir ini, beberapa metode mengajar itu pernah penulis tulis kembali dalam artikel-artikel lepas, misalnya (1) Fox Fire: Metode Mengajar Yang Mengasikkan, Menyenangkan, dan Menghasilkan, (2) Diskusi Kelompok, yang dimasukkan dalam website ini.
|
|
|
Memang telah banyak sekolah yang baru didirikan dengan label sebagai sekolah unggulan, sekolah favorit, baik yang berstandar nasional maupun internasional. Lembaga pendidikan sekolah itu, pada umumnya dibangun dengan infrastruktur yang mewah pada lahan yang relatif luas. Tetapi, apakah lembaga pendidikan sekolah itu hanya cukup dengan infrastruktur yang mewah saja? Tentu saja tidak.
|
|
|
Banyak guru yang ingin menerapkan pendekatan pembelajaran PAKEM ini. Namun, mereka kesulitan untuk memperoleh acuan yang siap pakai.
|
|
|
Buku ini terdiri atas tiga seri berdasarkan pilar pendidikan, (1) Seri Pemerataan dan Peningkatan Akses Pendidikan, (2) Seri Peningkatan Mutu, Relevansi, dan Daya Saing, dan (3) Seri Peningkatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan Pencitraan Publik.
|
|
|
Buku ini menjawab pertanyaan-pertanyaan penting tentang guru. Siapakah guru itu; apa status, peran, dan fungsi guru; apa hak dan kewajiban guru, kode etik dan organisasi profesi guru; apa itu profesi, ciri-ciri pekerjaan sebagai profesi; apa itu standar kompetensi guru; program pembinaan guru, dan satu skenario yang diusulkan oleh penulis untuk meningkatan mutu guru dan tenaga kependidikan.
|
|
|
Ki Hajar Dewantara mengemukakan konsep tripusat pendidikan. Keluarga merupakan lembaga pendidikan pertama dan utama. Paradigma lama hubungan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat mengalami perkembangan, mulai dari paradigma lama, transisional, dan paradigma baru.
|
|
|
Buku ini berisi kumpulan bahan taklim keluarga. Buku kecil ini dikumpulkan dari berbagai macam media, dan disusun kembali menjadi bahan taklim dalam keluarga. Kewajiban untuk menyampaikan kebenaran menjadi tugas mulia bagi penerus tugas kenabian.
|
|
|
Buku ini menjelaskan tentang keluarga sebagai fondasi masyarakat. BAHTERA yang digunakan dalam buku ini merupakan akronim dari (1) Bermula Dari Cinta, (2) Agama Sebagai Pedoman, (3) Hidup Harmonis, (4) TEtap Berbakti Kepada Ayah Bunda, (5) Rekreasi Keluarga, dan (6) Anak Sebagai Ibadah.
|
|
|